
Save Subak adalah gerakan untuk melestarikan sistem irigasi tradisional Bali yang telah diwariskan secara turun-temurun. Lebih dari sekadar cara mengairi sawah, Subak mencerminkan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas melalui filosofi Tri Hita Karana.
Sistem Subak adalah sistem irigasi tradisional di Bali yang digunakan untuk mengelola pengairan sawah secara kolektif. Subak bukan sekadar sistem teknis, tetapi juga merupakan bentuk organisasi sosial yang berlandaskan filosofi Tri Hita Karana , yaitu keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan lingkungan.
Sistem Subak tidak hanya sekadar metode irigasi, tetapi juga warisan budaya yang telah terbukti mampu menjaga keseimbangan alam dan kehidupan sosial petani Bali. Berikut adalah beberapa keunggulan yang menjadikan Subak sebagai sistem pertanian yang unik dan berkelanjutan.
Subak memastikan air dialirkan secara adil melalui terasering dan saluran tradisional, mengoptimalkan penggunaan air tanpa pemborosan.
Struktur bertingkat memperlambat aliran air, mencegah erosi, dan menjaga keseimbangan ekosistem sawah secara alami.
Subak mengandalkan gotong royong dan filosofi Tri Hita Karana, mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan dalam pertanian.


Men Lembug adalah simbol semangat petani Bali, seorang nenek petani yang sepanjang hidupnya menjaga sawah dengan sistem Subak—warisan budaya UNESCO. Kisah Men Lembug menginspirasi lahirnya gerakan Save Subak, sebuah inisiatif untuk menyelamatkan sawah-sawah Bali dari ancaman modernisasi dan perubahan iklim.
“Sawah itu bukan hanya tanah… itu warisan. Kalau kita jaga, kitajaga hidup kita sendiri.” — Men Lembug
Melalui Save Subak, setiap kilogram beras organik yang Anda pilih berarti membantu mempertahankan:

